- Back to Home »
- Tradisi Masyarakat Hindu-Budha Dalam Masyarakat
Hubungan perkembangan tradisi Hindu-Budha
dengan perubahan struktur sosial masyarakat, pendidikan, kesenian, dan
teknologi pada masa kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha di Indonesia
Masuk
dan berkembangnya pengaruh tradisi hindu membawa perubahan terhadap
masyarakat di kepulauan Indonesia, yakni tampak pada susunan masyarakat
Indonesia yang berdasarkan sistem kasta :
1. Brahmana yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas kaum pendeta, raja dan pembesar kerajaan lainnya
2. Ksatriya yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para bangsawan dan prajurit atau tentara
3. Waisya yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para pedagang, petani, dan masyarakat biasa
4. Sudra yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para budak dan pekerja kasar
5.
Paria yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas penduduk pendatang
dan oaringorang yang terkena hukuman karena melanggar aturan kasta
Penganut agama Hindu percaya pada banyak dewa (politeisme) yang tergabung kedalam Trimurti yaitu :
Brahmana sebagai dewa pencipta alam semesta
Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta
Siwa sebagai dewa perusak alam semesta
1) Hidup adalah sengsara
2) Samsara di sebabkan oleh mengikuti hawa nafsu ingin menguasai dunia
3) Samsara dapat dihilangkan dengan cara memerangi hawa nafsu
4) Hawa nafsu dapat di hilangkan dengan cara menempuh delapan jalan kebenaran atau Dharma
Karena dalam ajaran budha dikenal adanya sistem kasta maka banyak masyarakat Indonesia yang berpindah menganut agama budha karena tidak memandang status sosial atau kedudukan seseorang dalam masyarakat.
Beberapa sumber sejarah menjeleskan tentang sistem dan proses pendidikan di Indonesia antara lain prasasti, candi, arca, kraton maupun naskah kuno. Beberapa pengaruh tradisi Hindu-Budha di Indonesia atara lain bentuk seni arsitektur seperti bangunan candi. Bangunan candi yang bercorak agama Budha di India umumnya berbentuk stupa,tetapi di Indonesia berbentuk punden berundak yang merupakan tempat tinggal para Hyang (nenek moyang). Candi sebagai tempat sementara dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat yang sebenarnya,yaitu gunung mahameru selai itu biasanya candi juga di hiasi oleh berbagai hiasan dan pahatan seperti hiasan bunga teratai,hewan keramat,bidadari dan arca-arca dewa adalah khas alam Indonesia,selain candi Indonesia juga ditemukan bangunan kuil atau pura sebagai tempat peribadatan penganut agama Hindu.
Pada masa pengaruh tradisi Hindu-Budha teknik bercocok tanam masih dilakukan secara sederhana seperti berladang yang dilakukan secara berpindah-pindah tempat dan dikerjakan dengan peralatan yang sederhana.
Dalam bidang teknologi pengangkutan terjadi perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan IPTEK yang dikuasai oleh masyarakat.
F. Faktor-faktor Penyebab Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha.
Memasuki abad ke-15 M,Kerajaan Majapahit dan Kerajaan-Kerajaan yang bercorak Hindu-Budha mulai mengalami kemunduran.yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah karena terdesak dan terkalahkan oleh kemajuan yang dicapai oleh kesultanan-kesultanan yang bercorak islam. Selain itu terjadi pula perang saudara di Majapahit yang menyebabkan kekuatan Majapahit menjadi lemah dan terpecah, dalam situasi seperti ini pengawasan pemerintahan pusat kepada raja daerah menjadi longgar sehingga memicu raja-raja di daerah menyusun kekuatan sendiri, berhubungan dengan negara lain, mencari pertuanan baru, dan selanjutnya melepaskan diri.
Perkembangan agama Islam juga ikut mempercepat keruntuhan Majapahit karena raja-raja bawahan telah memeluk agama Islam yang kemudian berpaling dari Majapahit dan mencari pertuanan baru. Serta munculnya Malaka sebagai pusat perdagangan Islam yang menyebabkan Bandar Majapahit menjadi jarang dikunjungi oleh pedagang asing. Namun dengan runtuhnya Majapahit pada awal abad ke-16 M, Indonesia memasuki babakan baru, yaitu periode kesultanan-kesultanan yang bercorak Islam.
G. Tradisi Hindu-Budha di Dalam masyarakat Setelah Runtuhnya Kerajaan Hindu-Budha.Pada awalnya tradisi Hindu-Budha hanya dikenal dikalangan Keraton. Namun tradisi itu lambat laun masuk ke desa-desa dan bertemu dengan kepercayaan asli masyarakat yang memuja arwah leluhur yang menyebabkan adanya akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha dengan kebudayaan asli (lokal).
Menurut tradisi masuknya agama Hindu ke kepulauan Bali diduga terjadi sejak abad ke-7 dengan tibanya rombongan dari Jawa yang dipimpin oleh Markandeya, dalam proses akulturasi antara kebudayaan Bali asli dengan kebudayaan Hindu yang menyebabkan adanya aliran Hinduisme.