Arsitektur Monumen Keagamaan Hindu-Buddha di Indonesia
Arsitektur Monumen keagamaan Hindu
Dan Budha di Indonesia.
Salah
satu peninggalan dari zaman Hindu-Budha yang sangat berharga sebagai
sumber sejarah Indonesia kuno adalah bidang arsitektur atau seni bangun. Peninggalan tersebut berupa bangunan-bangunan sui yang bersifat agama Hindu atau Buddha yang kita kenal dengan nama candi. Menurut Dr. W.F Stutterheim dan Dr. H.J. Kom, nama candi merupakan kependekan dari candika, yaitu salah satu nama dari Dewi Durga atau Dewi Maut.
Candi dalam agama Hindu sebenarnya adalah bangunan untuk
memuliakan raja yang telah wafat.
Dalam candi yangv dikuburkan bukanlah mayat atau abu jenazah, melainkan bermacam-macam benda, seperti potongan-ptongan berbagai jenis logam dan batu-batu akik yang disertai dengan saji-sajian. Benda-benda tersebut dinamakan pripih dan dianggap sebagai lambang zat-zat jasmaniah dari sang raja yang telah bersatu kembali dengan penitisnya. Mayat seorang raja yang meninggal di bakar dan abunya dihanyutkan ke laut. Arca Syiwa yang merupakan
perwujudan yang melukiskan sang raja sebagai dewa,
namun sering kali
arca perwujudan itu berupa lambang syiwa saja yaitu lingga.
Candi dalam agama Buddha dimaksudkan sebagai tempat pemujaan dewa saja. Di dalamnya tidak terdapat pripih dan arcanya tidak mewujudkan seorang raja. Seandainya ada yang ditemukan bkanlah candi agam Buddha aliran Mahayana atau Hinayana, tetapi Buddha Tantrayana, misalnya candi Jawi di Prigen, Pasuruan, Jawa timur.
a) Kaki candi yang melambangkan alam bawahtempat manusia biasa
b)
Badan candi yang melambangkan alam atara tempat manusia yang telah
meninggalkan keduniawiannya dan alam keadaan suci menemui dewanya
c) Atap candi yang melambangkan alam atas tempat bersemanyamnya para dewa.
Berdasarkan cara pengelompokannya candi-candi di Indonesia dapat di bagi menjadi
tiga jenis, yaitu :
1) Jenis Jawa Tengah Utara yang bersifat Syiwa
2) Jenis Jawa Tengah Selatan yang bersifat Hindu Dan Budha
3) Jenis Jawa Timur temasuk candi-candi di Bali dan Sumatra yang bersifat
pembauran antara Syiwa, Budha dan kepercayaan lokal.
Beberapa candi seperti Candi borobudur dan prambanan dibangun amat megah, detil, kaya akan hiasan yang mewah, bercitarasa estetika yang luhur, dengan menggunakan teknologi arsitektur yang maju pada zamannya. Bangunan-bangunan ini hingga kini menjadi bukti betapa tingginya kebudayaan dan peradaban nenek moyang bangsa Indonesia.
Candi di Indonesia
Candi borobudur merupakan monumen Buddha terbesar di dunia
Kebanyakan candi-candi yang ditemukan di Indonesia tidak diketahui nama aslinya. Kesepakatan di dunia arkeologi adalah menamai candi itu berdasarkan nama desa tempat ditemukannya candi tersebut. Candi-candi yang sudah diketahui masyarakat sejak dulu, kadang kala juga disertai dengan legenda yang terkait dengannya. Ditambah lagi dengan temuan prasasti atau mungkin disebut dalam naskah kuno yang diduga merujuk kepada candi tersebut. Akibatnya nama candi dapat bermacam-macam, misalnya candi Prambanan, candi Rara Jonggrang, dan candi Siwagrha merujuk kepada kompleks candi yang sama. Prambanan adalah nama desa tempat candi itu berdiri.
Jenis dan Fungsi
Jenis berdasarkan agama
Berdasarkan latar belakang keagamaannya, candi dapat dibedakan menjadi candi Hindu, candi Buddha, paduan sinkretis Siwa-Buddha, atau bangunan yang tidak jelas sifat keagamaanya dan mungkin bukan bangunan keagamaan.
- Candi Hindu, yaitu candi untuk memuliakan dewa-dewa Hindu seperti Siwa atau Wisnu, contoh: candi Prambanan, candi Gebang, kelompok candi Dieng, candi Gedong Songo, candi Panataran, dan candi Cangkuang.
- Candi Buddha, candi yang berfungsi untuk pemuliaan Buddha atau keperluan bhiksu sanggha, contoh candi Borobudur, candi Sewu, candi Kalasan, candi Sari, candi Plaosan, candi Banyunibo, candi Sumberawan, candi Jabung, kelompok candi Muaro Jambi, candi Muara Takus, dan candi Biaro Bahal.
- Candi Siwa-Buddha, candi sinkretis perpaduan Siwa dan Buddha, contoh: candi Jawi.
- Candi non-religius, candi sekuler atau tidak jelas sifat atau tujuan keagamaan-nya, contoh: candi Ratu Boko, Candi Angin, gapura Bajang Ratu, candi Tikus, candi Wringin Lawang.
Jenis berdasarkan hirarki dan ukuran
Dari ukuran, kerumitan, dan kemegahannya candi terbagi atas beberapa
hirarki, dari candi terpenting yang biasanya sangat megah, hingga candi
sederhana. Dari tingkat skala kepentingannya atau peruntukannya, candi
terbagi menjadi:
- Candi Kerajaan, yaitu candi yang digunakan oleh seluruh warga kerajaan, tempat digelarnya upacara-upacara keagamaan penting kerajaan. Candi kerajaan biasanya dibangun mewah, besar, dan luas. Contoh: Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Sewu, dan Candi Panataran.
- Candi Wanua atau Watak, yaitu candi yang digunakan oleh masyarakat pada daerah atau desa tertentu pada suatu kerajaan. Candi ini biasanya kecil dan hanya bangunan tunggal yang tidak berkelompok. Contoh: candi yang berasal dari masa Majapahit, Candi Sanggrahan di Tulung Agung, Candi Gebang di Yogyakarta, dan Candi Pringapus.
- Candi Pribadi, yaitu candi yang digunakan untuk mendharmakan seorang tokoh, dapat dikatakan memiliki fungsi mirip makam. Contoh: Candi Kidal (pendharmaan Anusapati, raja Singhasari), candi Jajaghu (Pendharmaan Wisnuwardhana, raja Singhasari), Candi Rimbi (pendharmaan Tribhuwana Wijayatunggadewi, ibu Hayam Wuruk), Candi Tegowangi (pendharmaan Bhre Matahun), dan Candi Surawana (pendharmaan Bhre Wengker).
Fungsi
Candi dapat berfungsi sebagai:
- Candi Pemujaan: candi Hindu yang paling umum, dibangun untuk memuja dewa, dewi, atau bodhisatwa tertentu, contoh: candi Prambanan, candi Canggal, candi Sambisari, dan candi Ijo yang menyimpan lingga dan dipersembahkan utamanya untuk Siwa, candi Kalasan dibangun untuk memuliakan Dewi Tara, sedangkan candi Sewu untuk memuja Manjusri.
- Candi Stupa: didirikan sebagai lambang Budha atau menyimpan relik buddhis, atau sarana ziarah agama Buddha. Secara tradisional stupa digunakan untuk menyimpan relikui buddhis seperti abu jenazah, kerangka, potongan kuku, rambut, atau gigi yang dipercaya milik Buddha Gautama, atau bhiksu Buddha terkemuka, atau keluarga kerajaan penganut Buddha. Beberapa stupa lainnya dibangun sebagai sarana ziarah dan ritual, contoh: candi Borobudur, candi Sumberawan, dan candi Muara Takus
- Candi Pedharmaan: sama dengan kategori candi pribadi, yakni candi yang dibangun untuk memuliakan arwah raja atau tokoh penting yang telah meninggal. Candi ini kadang berfungsi sebagai candi pemujaan juga karena arwah raja yang telah meninggal seringkali dianggap bersatu dengan dewa perwujudannya, contoh: candi Belahan tempat Airlangga dicandikan, arca perwujudannya adalah sebagai Wishnu menunggang Garuda. Candi Simping di Blitar, tempat Raden Wijaya didharmakan sebagai dewa Harihara.
- Candi Pertapaan: didirikan di lereng-lereng gunung tempat bertapa, contoh: candi-candi di lereng Gunung Penanggungan, kelompok candi Dieng dan candi Gedong Songo, serta Candi Liyangan di lereng timur Gunung Sundoro, diduga selain berfungsi sebagai pemujaan, juga merupakan tempat pertapaan sekaligus situs permukiman.
- Candi Wihara: didirikan untuk tempat para biksu atau pendeta tinggal dan bersemadi, candi seperti ini memiliki fungsi sebagai permukiman atau asrama, contoh: candi Sari dan Plaosan
- Candi Gerbang: didirikan sebagai gapura atau pintu masuk, contoh: gerbang di kompleks Ratu Boko, Bajang Ratu, Wringin Lawang, dan candi Plumbangan.
- Candi Petirtaan: didirikan didekat sumber air atau di tengah kolam dan fungsinya sebagai pemandian, contoh: Petirtaan Belahan, Jalatunda, dan candi Tikus
Beberapa bangunan purbakala, seperti batur-batur landasan pendopo
berumpak, tembok dan gerbang, dan bangunan lain yang sesungguhnya bukan
merupakan candi, seringkali secara keliru disebut pula sebagai candi.
Bangunan seperti ini banyak ditemukan di situs Trowulan, atau pun paseban atau pendopo di kompleks Ratu Boko yang bukan merupakan bangunan keagamaan.
Berikut beberapa candi yang terdapat di Indonesia:
-
Candi Borobudur, monumen Buddha terbesar di dunia
-
Candi Mendut dekat Borobudur
-
Candi Pawon antara Borobudur dan Mendut
-
Candi Prambanan, candi Hindu terbesar di Indonesia
-
Candi Lumbung dekat Prambanan
-
Candi Sewu, candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur
-
Candi Plaosan Lor
-
Candi Bima, Dieng
-
Candi Puntadewa, Dieng
-
Candi Arjuna, Dieng
-
Candi Srikandi, Dieng
-
Candi Gatotkaca, Dieng
-
Candi Semar, Dieng
-
Candi Gedong Songo, Ungaran
-
Candi Gebang, Yogyakarta
-
Candi Cangkuang, Garut, Jawa Barat
-
Candi Padas Gunung Kawi, Bali
-
Candi Tikus, Trowulan
-
Gapura Wringin Lawang, Trowulan
-
Candi Brahu, Trowulan
-
Candi Gumpung, Muaro Jambi, Jambi
-
Candi Muara Takus, Riau
Teori Masuknya Hindu-Budha di Indonesia
TEORI TENTANG MASUK DAN MENYEBARNYA HINDU-BUDHA KE INDONESIA
Proses masuknya agama Hindu di Indonesia sampai sekarang belum di ketahui dengan jelas karena di kalangan para sejarawan belum ada kesepakatan yang bulat. Hal itu menimbulkan bermacam-macam teori tentang masuknya agama Hindu ke Indonesia, yaitu sebagai berikut:
1. Teori Waisya
Teori di kemukakan oleh N.J Krom. Ia menyatakan bahwa kaum
pedagang dari India, di samping berdagang, juga membawa adat
kebiasaan, seperti melakukan upacara keagamaan. Menurut N.J
Krom, kaum pedagang merupakan golongan terbesar yang datang
ke Nusantara. Mereka pada umumnya menetap di Nusantara dan
kemudian memegang peranan penting dalam proses penyebaran
kebudayaan India melalui hubungan dengan penguasa-penguasa
Indonesia. Krom mensyaratkan kemungkinan adanya perkawinan
antara pedagang dengan wanita Indonesia. Perkawinan itu di
anggap sebagai saluran penyebaran pengaruh yang sangat penting
dalam teori ini.
2. Teori Ksatria
Teori ini dikemukakan oleh F.D.K Bosch. Ia berpendapat adanya
raja-raja dari India yang datang menaklukan daerah-daerah tertentu
di Indonesia dan menghindukan penduduknya. Van Leur mengajukan
keberatan terhadap teori ini karen asuatu kolonisasi yang dilakukan oleh
golongan ksatria akan tercatat dalam sumber-sumber tertulis baik di India
maupun di Indonesia. Selain tanda-tanda peringatan seperti Jayastamba
( tugu kemenangan ) maupun monumen lainnya juga tidak di temukan.
3. Teori Brahmana
Teori ini dikemukakan oleh J.C Van leur. Ia menyatakan bahwa kaum
Brahmanalah yang menyebarkan agama Hindu di Nusantara. Hal ini
disebabkan karena kaum brahmana merupakan golongan yang menguasai
soal keagamaan. Hipotesa Van Leur kemudian di benarkan oleh Bosch.
Bosch pun akhirnya berpendapat bahwa hanya golongan brahmanalah
yang dapat menyampaikannya kepada bangsa Indonesia. Untuk itu,
Ia mengusulkan istilah guna menggambarkan proses yang terjadi
antara budaya Indonesia dengan India dengan penyuburan. Dua jenis
" penyuburan " menurut Bosch yaitu proses melalui pendeta agama
Budha dan melalui kontak dagang.
Berbeda dengan agama Hindu, agama Budha disebarkan langsung oleh para biksu. Mereka mengenal adanya misi penyebaran agama Budha yang di sebut Dharmaduta.
Tradisi Masyarakat Hindu-Budha Dalam Masyarakat
Hubungan perkembangan tradisi Hindu-Budha
dengan perubahan struktur sosial masyarakat, pendidikan, kesenian, dan
teknologi pada masa kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha di Indonesia
Masuk dan berkembangnya pengaruh tradisi hindu membawa perubahan terhadap masyarakat di kepulauan Indonesia, yakni tampak pada susunan masyarakat Indonesia yang berdasarkan sistem kasta :
1. Brahmana yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas kaum pendeta, raja dan pembesar kerajaan lainnya
2. Ksatriya yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para bangsawan dan prajurit atau tentara
3. Waisya yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para pedagang, petani, dan masyarakat biasa
4. Sudra yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para budak dan pekerja kasar
5. Paria yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas penduduk pendatang dan oaringorang yang terkena hukuman karena melanggar aturan kasta
Penganut agama Hindu percaya pada banyak dewa (politeisme) yang tergabung kedalam Trimurti yaitu :
Brahmana sebagai dewa pencipta alam semesta
Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta
Siwa sebagai dewa perusak alam semesta
Masuk dan berkembangnya pengaruh tradisi hindu membawa perubahan terhadap masyarakat di kepulauan Indonesia, yakni tampak pada susunan masyarakat Indonesia yang berdasarkan sistem kasta :
1. Brahmana yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas kaum pendeta, raja dan pembesar kerajaan lainnya
2. Ksatriya yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para bangsawan dan prajurit atau tentara
3. Waisya yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para pedagang, petani, dan masyarakat biasa
4. Sudra yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas para budak dan pekerja kasar
5. Paria yaitu golongan masyarakat yang terdiri atas penduduk pendatang dan oaringorang yang terkena hukuman karena melanggar aturan kasta
Penganut agama Hindu percaya pada banyak dewa (politeisme) yang tergabung kedalam Trimurti yaitu :
Brahmana sebagai dewa pencipta alam semesta
Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta
Siwa sebagai dewa perusak alam semesta
Menurut
ajaran agama Budha orang yang ingin mencapai nirwana wajib menjalani
hidup samsara (sengsara) dengan meninggalkan hidup kedunia dan memerangi
hawa nafsu dalam ajaran agama budha terdapat empat kenyataan hidup
yaitu :
1) Hidup adalah sengsara
2) Samsara di sebabkan oleh mengikuti hawa nafsu ingin menguasai dunia
3) Samsara dapat dihilangkan dengan cara memerangi hawa nafsu
4) Hawa nafsu dapat di hilangkan dengan cara menempuh delapan jalan kebenaran atau Dharma
Karena dalam ajaran budha dikenal adanya sistem kasta maka banyak masyarakat Indonesia yang berpindah menganut agama budha karena tidak memandang status sosial atau kedudukan seseorang dalam masyarakat.
Beberapa sumber sejarah menjeleskan tentang sistem dan proses pendidikan di Indonesia antara lain prasasti, candi, arca, kraton maupun naskah kuno. Beberapa pengaruh tradisi Hindu-Budha di Indonesia atara lain bentuk seni arsitektur seperti bangunan candi. Bangunan candi yang bercorak agama Budha di India umumnya berbentuk stupa,tetapi di Indonesia berbentuk punden berundak yang merupakan tempat tinggal para Hyang (nenek moyang). Candi sebagai tempat sementara dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat yang sebenarnya,yaitu gunung mahameru selai itu biasanya candi juga di hiasi oleh berbagai hiasan dan pahatan seperti hiasan bunga teratai,hewan keramat,bidadari dan arca-arca dewa adalah khas alam Indonesia,selain candi Indonesia juga ditemukan bangunan kuil atau pura sebagai tempat peribadatan penganut agama Hindu.
Pada masa pengaruh tradisi Hindu-Budha teknik bercocok tanam masih dilakukan secara sederhana seperti berladang yang dilakukan secara berpindah-pindah tempat dan dikerjakan dengan peralatan yang sederhana.
Dalam bidang teknologi pengangkutan terjadi perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan IPTEK yang dikuasai oleh masyarakat.
F. Faktor-faktor Penyebab Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha.
Memasuki abad ke-15 M,Kerajaan Majapahit dan Kerajaan-Kerajaan yang bercorak Hindu-Budha mulai mengalami kemunduran.yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah karena terdesak dan terkalahkan oleh kemajuan yang dicapai oleh kesultanan-kesultanan yang bercorak islam. Selain itu terjadi pula perang saudara di Majapahit yang menyebabkan kekuatan Majapahit menjadi lemah dan terpecah, dalam situasi seperti ini pengawasan pemerintahan pusat kepada raja daerah menjadi longgar sehingga memicu raja-raja di daerah menyusun kekuatan sendiri, berhubungan dengan negara lain, mencari pertuanan baru, dan selanjutnya melepaskan diri.
Perkembangan agama Islam juga ikut mempercepat keruntuhan Majapahit karena raja-raja bawahan telah memeluk agama Islam yang kemudian berpaling dari Majapahit dan mencari pertuanan baru. Serta munculnya Malaka sebagai pusat perdagangan Islam yang menyebabkan Bandar Majapahit menjadi jarang dikunjungi oleh pedagang asing. Namun dengan runtuhnya Majapahit pada awal abad ke-16 M, Indonesia memasuki babakan baru, yaitu periode kesultanan-kesultanan yang bercorak Islam.
G. Tradisi Hindu-Budha di Dalam masyarakat Setelah Runtuhnya Kerajaan Hindu-Budha.Pada awalnya tradisi Hindu-Budha hanya dikenal dikalangan Keraton. Namun tradisi itu lambat laun masuk ke desa-desa dan bertemu dengan kepercayaan asli masyarakat yang memuja arwah leluhur yang menyebabkan adanya akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha dengan kebudayaan asli (lokal).
1) Hidup adalah sengsara
2) Samsara di sebabkan oleh mengikuti hawa nafsu ingin menguasai dunia
3) Samsara dapat dihilangkan dengan cara memerangi hawa nafsu
4) Hawa nafsu dapat di hilangkan dengan cara menempuh delapan jalan kebenaran atau Dharma
Karena dalam ajaran budha dikenal adanya sistem kasta maka banyak masyarakat Indonesia yang berpindah menganut agama budha karena tidak memandang status sosial atau kedudukan seseorang dalam masyarakat.
Beberapa sumber sejarah menjeleskan tentang sistem dan proses pendidikan di Indonesia antara lain prasasti, candi, arca, kraton maupun naskah kuno. Beberapa pengaruh tradisi Hindu-Budha di Indonesia atara lain bentuk seni arsitektur seperti bangunan candi. Bangunan candi yang bercorak agama Budha di India umumnya berbentuk stupa,tetapi di Indonesia berbentuk punden berundak yang merupakan tempat tinggal para Hyang (nenek moyang). Candi sebagai tempat sementara dewa merupakan bangunan tiruan dari tempat yang sebenarnya,yaitu gunung mahameru selai itu biasanya candi juga di hiasi oleh berbagai hiasan dan pahatan seperti hiasan bunga teratai,hewan keramat,bidadari dan arca-arca dewa adalah khas alam Indonesia,selain candi Indonesia juga ditemukan bangunan kuil atau pura sebagai tempat peribadatan penganut agama Hindu.
Pada masa pengaruh tradisi Hindu-Budha teknik bercocok tanam masih dilakukan secara sederhana seperti berladang yang dilakukan secara berpindah-pindah tempat dan dikerjakan dengan peralatan yang sederhana.
Dalam bidang teknologi pengangkutan terjadi perubahan dan perkembangan dari waktu ke waktu, sejalan dengan perkembangan IPTEK yang dikuasai oleh masyarakat.
F. Faktor-faktor Penyebab Runtuhnya Kerajaan-Kerajaan Bercorak Hindu-Budha.
Memasuki abad ke-15 M,Kerajaan Majapahit dan Kerajaan-Kerajaan yang bercorak Hindu-Budha mulai mengalami kemunduran.yang disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah karena terdesak dan terkalahkan oleh kemajuan yang dicapai oleh kesultanan-kesultanan yang bercorak islam. Selain itu terjadi pula perang saudara di Majapahit yang menyebabkan kekuatan Majapahit menjadi lemah dan terpecah, dalam situasi seperti ini pengawasan pemerintahan pusat kepada raja daerah menjadi longgar sehingga memicu raja-raja di daerah menyusun kekuatan sendiri, berhubungan dengan negara lain, mencari pertuanan baru, dan selanjutnya melepaskan diri.
Perkembangan agama Islam juga ikut mempercepat keruntuhan Majapahit karena raja-raja bawahan telah memeluk agama Islam yang kemudian berpaling dari Majapahit dan mencari pertuanan baru. Serta munculnya Malaka sebagai pusat perdagangan Islam yang menyebabkan Bandar Majapahit menjadi jarang dikunjungi oleh pedagang asing. Namun dengan runtuhnya Majapahit pada awal abad ke-16 M, Indonesia memasuki babakan baru, yaitu periode kesultanan-kesultanan yang bercorak Islam.
G. Tradisi Hindu-Budha di Dalam masyarakat Setelah Runtuhnya Kerajaan Hindu-Budha.Pada awalnya tradisi Hindu-Budha hanya dikenal dikalangan Keraton. Namun tradisi itu lambat laun masuk ke desa-desa dan bertemu dengan kepercayaan asli masyarakat yang memuja arwah leluhur yang menyebabkan adanya akulturasi antara kebudayaan Hindu-Budha dengan kebudayaan asli (lokal).
Apabila unsur kebudayaan asli di suatu
tempat kuat, unsur kebudayaan asli akan bertahan dan berpadu dengan
kebudayaan hindu-Budha dan sebaliknya. Runtuhnya kerajaan Majapahit pada
awal abad ke-16 menyebabkan kekuasaan Hindu-Budha lenyap di
Nusantara,namun sampai zaman sekarang agama Hindu masih tetap ada
seperti Hindu Bali yang juga disebut Hindu Dharma yang merupakan
percampuran antara Animisme, Hindu dan Budha.
Menurut tradisi masuknya agama Hindu ke kepulauan Bali diduga terjadi sejak abad ke-7 dengan tibanya rombongan dari Jawa yang dipimpin oleh Markandeya, dalam proses akulturasi antara kebudayaan Bali asli dengan kebudayaan Hindu yang menyebabkan adanya aliran Hinduisme.
Menurut tradisi masuknya agama Hindu ke kepulauan Bali diduga terjadi sejak abad ke-7 dengan tibanya rombongan dari Jawa yang dipimpin oleh Markandeya, dalam proses akulturasi antara kebudayaan Bali asli dengan kebudayaan Hindu yang menyebabkan adanya aliran Hinduisme.